Sejarah Dibalik Soko Tatal Masjid Demak, Peninggalan Kerajaan Demak
Yang Unik - Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang termasuk
salah satu kerajaan yang meninggalkan beberapa peninggalan yang masih ada
sampai saat ini. Salah satu peninggalan Kerajaan Demak yang masih ada dan
menunjukkan bahwa Kerajaan Demak juga pernah mengalami masa jaya tentunya
adalah Masjid Demak. Masjid Demak menurut sejarah Kerajaan Demak, dibangun pada
masa awal berdirinya Kerajaan Demak. Di dalam masjid Demak sendiri menyimpan
banyak keunikan yang bahkan sampai saat ini masih menjadi daya tarik yang luar
biasa. Salah satu yang menjadi daya tarik tentu saja adalah keberadaan Soko
Tatal.
![]() |
Soko Tatal Masjid Demak |
Soko tatal sendiri adalah salah satu soko dari empat soko guru sebagai
penopang bangunan utama Masjid Demak. Soko adalah bahasa Jawa yang dalam bahasa
Indonesia adalah tiang, sedangkan tatal adalah potongan lembaran kecil dari
sisa kayu. Soko tatal termasuk salah satu bagian dari Masjid Agung Demak yang
selalu menjadi perhatian para wisatawan ketika berkunjung ke Masjid Demak. Lalu
seperti apa sejarah soko tatal atau misteri dibalik pembuatan soko tatal ini,
perhatikan ulasan di bawah ini untuk lebih jelasnya.
Sejarah Soko Tatal Masjid Demak
Soko tatal adalah sebuah tiang yang terbuat dari potongan kecil sisa
kayu yang dibuat untuk tiang penyangga. Nah, soko tatal tersebut memang
benar-benar terbuat dari potongan kayu kecil sampai terbentuk menjadi tiang
dengan diameter 70cm. Yang semakin membuat soko tatal itu menarik tentu adalah
kisah dibalik pembuatan soko itu sendiri. Menurut cerita rakyat yang beredar,
entah itu benar atau tidak, soko tatal tersebut yang membuat adalah Kanjeng
Sunan Kalijogo dengan daya linuwihnya.
Alkisah, disebutkan bahwa pembangunan masjid Demak pada saat itu
berlangsung dengan lancar. Masing-masing Wali dari Walisongo menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya masing-masing. Beberapa wali membawa membawa empat tiang
besar, wali tersebut yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan
Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Purwaganda, Sunan Gunung Jati, Pangeran Palembang,
dan Syekh Siti Jenar. Kanjeng Sunan Kalijogo yang membawa sendiri tiga buah
tiang, jumlah total keseluruhan tiang adalah 83 tiang dan masih kuran satu
tiang lagi.
Dan ketika pendirian masjid Demak tinggal satu hari lagi, ternyata
tiang untuk soko guru yang seharusnya empat ternyata masih kurang satu tiang.
Kemudian Sunan Bonang pun menanyakan kepada Sunan Kalijogo tentang tian yang
masih kurang satu tersebut. Sunan Kalijogo pun kemudian menyanggupi untuk
menyelesaikan satu tiang yang belum terselesaikan tersebut. Malam-malam sambil
menunggui orang mengapak kulit bagian luar, Sunan Kalijaga menyusun dan
melekatkan bagian-bagian potongan kayu dengan lem damar, kemenyan, dan blendok,
lantas dibalut.
Nah, dalam waktu semalam tersebut, Sunan Kalijogo berhasil
menyelesaikan tugasnya membuat tiang soko guru yang beliau buat dari tatal.
Tiang dari tatal tersebut menyimpan banyak makna. Selain menyimbulkan kesaktian
dari Sunan Kalijogo jika dilihat dari dimensi kesaktian spiritual. Juga
menggambarkan kreatifitas dari Sang Sunan yang memang dikenal memiliki citarasa
seni yang sangat dalam. Selain itu, ada juga yang menafsiri bahwa soko tatal
tersebut memiliki makna akan persatuan umat Islam dan kerukunan antar umat
beragama.
Ulasan Sejarah Soko Tatal Dari Ahli
Dengan beragam kisah yang beredar terkait Soko Tatal tersebut, lantas
banyak pertanyaan terkait kebenaran kisah tersebut. Sebagai pembanding saja,
ada ulasan sejarah Soko Tatal dari Handinoto dan Samuel Hartono peneliti
sejarah. Menurut kedua peneliti tersebut, Raden Patah yang merupakan Raja Demak
pertama banyak sumber sejarah Kerajaan Demak yang menyebutnya sebagai
Panembahan Jimbun. Beliau adalah seorang Cina Muslim, sedangkan dalam bahasa
Cina, Jinbun memiliki arti seorang yang kuat. Pendapat Handinoto ini juga
disepakati oleh peneliti lain seperti Denys Lombard, Sumanto Al-Qurthuby, HJ de
Graaf. serta Budiman.
Menurut peneliti lain yaitu Graaf, pembuatan Mesjid Demak pada saat
itu tidak selesai-selesai karena luasnya atap Masjid. Hal ini disinyalir karena
penduduk setempat masih belum terbiasa membuat bangunan yang konstruksinya
terbuat dari kayu yang begitu besar. Sehingga kemudian Raden Patah mendatangkan
orang Cina yang memiliki keahlian membuat kapal dari pelabuhan Semarang. Nah,
salah satu teknik yang orang Cina lakukan untuk menyelesaikan bangunan Masjid
Demak ini adalah dengan membuat tiang dari tatal.
Nah, itulah alasan mengapa konstruksi tiang tatal di Masjid Demak
tersebut sangat mirip dengan teknik penyambungan kayu pada tiang-tiang kapal
Jung China. Bahan-bahan yang digunakan pun, kata Handinoto, ada kesamaan dengan
bahan yang digunakan pada Kelenteng Talang di Cirebon.
Nah teman-teman, itulah sedikit informasi sejarah terkait sejarah soko
tatal Masjid Demak yang bisa kami sampaikan untuk kalian semua. Semoga sedikit
informasi mengenai sejarah soko tatal masjid Demak di atas bisa menambah
pengetahuan kita semua mengenai sejarah Masjid Demak.
0 komentar:
Posting Komentar